Desember 17, 2011

aku dan semua yang kuinginkan dalam hidup

Ditulis dalam Uncategorized pada 2:30 pm oleh karinadamayanti

tebak akunya mana. hehe

Oktober 28, 2011

motivasi

Ditulis dalam Uncategorized pada 6:33 am oleh karinadamayanti

suatu hari saya try out. (eh aku udah kelas 3 lho)
malam sebelumnya tentu saja saya belajar. tapi ya gimana, karena keterbatasan kemampuan yang saya miliki, saya hanya belajar semampunya. yaaa ngerjain soal dikit dikit lah.
hari H saya kaget. ternyata temen temenku belajarnya luar biasa banget. mereka bahkan memiliki kopian soal snmptn taun lalu dan latihan soal dari situ. tentu saja aku jadi minder, yeah karena dibandingkan dgn soal ASLI snmptn, soal ppi itu kurang dari sesuatu…
tapi waktunya udah mepet. jadi aku memanfaatkan waktu yg sedikit itu utk ‘belajar’ dengan mencuri curi pandang dan dengar apa yang mereka bahas. dan tetoooot….waktunya try out tiba.
yaudahlah, aku pasrah, toh cuma try out…

bbrp hari kemudian keluarlah hasilnya. dan gak diduga gak dinyana sebelumnya. hasilnya lumayan. lumayan baik, lumayan jelek juga. kenapa? yeah, awalnya aku bangga dgn hasil yg aku miliki, sampai aku cerita sama bapak. dan bapak pun berkata,
“matematika cuma ngerjain 2 soal? ealaaaah piye to nduuk…”

ups. aku salah ya.
jadi aku menyimpulkan bahwa bapak kecewa. dan kata kata itu terngiang terus di telingaku. dan lama lama maknanya berkembang,
“matematika cuma ngerjain 2 soal itu kamu bilang bagus?”

yeeeh. ini baru namanya motivasi. aku harus belajar lebih keras, eh bukan… belajar lebih cerdas lagi.
up up up! semangat semangat semangat! bisa bisa bisa!

Oktober 25, 2011

Pendidikan Berorientasi Nilai

Ditulis dalam Uncategorized pada 12:27 pm oleh karinadamayanti

Berbicara mengenai orientasi pendidikan, saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai orientasi yang dianut oleh Indonesia terlebih dahulu. Sistem yang ada di Indonesia berbeda dengan yang diterapkan di Eropa atau Amerika. Di beberapa negara, kenaikan kelas seorang siswa dilihat dari potensi yang sekarang dengan yang dulu. Jika siswa tersebut telah mengalami perkembangan, maka siswa dapat dinyatakan naik ke tingkat berikutnya. Hal ini tentu berbeda dengan yang ada di Indonesia, dimana perkembangan siswa dilihat dengan membandingkan nilai siswa tersebut dengan siswa lainnya, atau biasa kita sebut dengan sistem ranking.

Menurut saya, sistem ranking inilah yang membuat siswa memiliki pandangan bahwa apa yang ia kerjakan dan ia kejar di bangku sekolah semata-mata hanyalah nilai. Padahal jika kita kembali menilik hakikat pendidikan, bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan manusia yang berpikir bagaimana mempertahankan hidup dalam kehidupan ini dan mengemban tugas dari Sang Khaliq untuk beribadah, keduanya memiliki esensi yang samasekali bertolak belakang. Artinya manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, diciptakan Tuhan dibekali akal, ditujukan untuk mengolah akal pikirnya dengan suatu pola pendidikan, melalui suatu proses pembelajaran. Namun proses inilah yang kadang diabaikan. Mengapa demikian?

Pada satu sisi, pendidikan berorientasi proses memang begitu diagung-agungkan demi mencapai generasi yang berkualitas. Tetapi di sisi lain, proses itu sendiri menjadi diabaikan karena faktanya nilai juga merupakan suatu kebutuhan. Kita tahu bahwa melamar pekerjaan saja IPK-lah yang menentukan. Kelulusan seorang siswa pun dilihat dari nilai ujian nasionalnya. Kenaikan kelas seorang anak lagi-lagi dilihat dari nilai rapornya. Mau tidak mau sistem itu sendirilah yang memicu adanya pendidikan atau pembelajaran berorientasi nilai.

Suatu proses dalam belajar mengajar adalah penting. Penting karena dengan adanya proses kita menjadi tahu apa yang sebenarnya kita pelajari. Apa penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan kita bisa belajar dari kesalahan yang pernah kita buat dalam proses itu sendiri. Terkadang memang pahit jika dalam proses itu kita menemui batu sandungan. Atau sakit hati karena ketidakadilan. Namun disitulah indahnya suatu proses. Dimana kamu akan menghargai bagaimana sesuatu dapat diperoleh jika kamu memang berusaha. Bagaimana luar biasanya ketika kamu dapat memulai segalanya dari nol. Dan lebih penting lagi, menumbuhkan karakter generasi mendatang yang jujur, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya.

Pada dasarnya orientasi nilai bukanlah apa-apa. Karena dengan adanya keinginan untuk mencapai nilai yang baik, menjadi lebih baik di antara teman-temannya, dapat menjadi motivasi siswa untuk berusaha maksimal. Akan tetapi, bukan berarti nilai adalah segala-galanya. Bukan berarti kita bisa mengukur segalanya dengan nilai. Sebab nilai itu sendiri tidak dapat menginterpretasikan kemampuan siswa secara keseluruhan. Kadang kita, baik sesama siswa maupun guru, hanya melihat apa yang ada di atas kertas. Jadi, di mata kita yang tertulis disana itulah kebenarannya. Padahal kita belum tentu mengetahui prosesnya. Proses memperolehnya berbeda-beda. Sang guru mungkin tidak tahu bahwa diantara siswanya ada yang merelakan waktu tidurnya untuk belajar. Mungkin saja siswa sedang sakit ketika ujian. Dan tidak menutup kemungkinan ada pula yang mengandalkan contekan dan bergantung pada keberuntungan. Kejadian serupa pun sering terjadi pada ujian tingkat nasional. Hal inilah yang kemudian menjadi salah, jika kita hanya berorientasikan pada nilai, dan bukan proses.

Pembelajaran berorientasi nilai akan membawa dampak buruk pada proses pembelajaran itu sendiri. Sebuah penelitian membuktikan bahwa semakin sekolah menekankan pada nilai, semakin besar kemungkinan siswa mencontek, walaupun mereka tahu bahwa hal itu salah. Siswa yang diarahkan atau berorientasi pada hasil/nilai baik dalam melakukan sesuatu, justru cenderung untuk tidak melakukannya dengan baik. Persaingan di kelas pun menjadi tidak sehat. Siswa yang seharusnya belajar untuk menghadapi ujian kadang justru berlomba-lomba mencari bocoran soal. Jika ia sudah mendapatkannya ia akan cenderung merahasiakan. Bertanya kesana kemari mencari jawaban yang benar dengan dalih soal milik teman. Kemudian tersenyum bangga ketika mendapat hasil yang lebih baik dibanding teman-temannya. Mengetahui ada jalan yang lebih mudah untuk mendapatkan nilai seperti ini, tentu memberi daya tarik tersendiri bagi orang-orang disekitarnya dan akan memberi dampak persaingan yang semakin tidak sehat pula. Hal ini sebenarnya sah-sah saja jika kita memang menginginkan hasil yang baik. Suatu alat jika itu memang dapat digunakan untuk memperoleh tujuan, maka alat atau cara tersebut boleh digunakan. Namun pertanyaannya, apakah tujuan kita hanya sebatas nilai?

Pada jenjang menengah pertama dan sekolah dasar, hal seperti ini belum menjadi masalah. Namun jika sistem seperti ini sudah mengetuk jiwa idealis pemuda-pemudi Indonesia, tidak jarang kita mendengar suara-suara yang mengkritisi ketidakberesan yang tumbuh dalam budaya pendidikan bangsa ini. Baik dari kalangan mahasiswa maupun yang masih duduk di bangku SMA. Tidak sedikit aktivis sekolah, melalui organisasi keagamaan maupun musyawarah kelas, menggalakkan pentingnya sebuah proses dalam belajar mengajar. Mirisnya, ajakan seperti ini kadang dipandang radikal dan ‘sok suci’ oleh beberapa oknum yang memang terbutakan oleh sistem yang sudah salah dari akarnya. Ketika Anda membaca tulisan ini pun, pasti ada pula yang berpikiran bahwa saya hanya orang yang tidak tahu apa-apa yang berusaha memperjuangkan kaum lemah teraniaya akibat ketidakadilan sistem bukan?

Sistem pendidikan di Indonesia menuntut para pelajarnya untuk berorientasi pada nilai. Nilai itu sendiri, sekali lagi merupakan suatu kebutuhan. Hampir seluruh aspek kehidupan membutuhkan nilai yang kadang semu interpretasinya. Bagaimana kita menyikapi ini? Semua kembali kepada masing-masing individu, apakah sekedar nilai ataukah proses menuju Indonesia yang lebih baik yang kita kejar.

narasumber :
pak hamid supriyatna

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/11/08/hakikat-pendidikan/

http://rizaldp.wordpress.com/2011/07/12/berorientasi-nilai-atau-proses/

Oktober 10, 2011

sedihnya

Ditulis dalam Uncategorized pada 7:34 am oleh karinadamayanti

kemaren liat seorang guru ngoreksi lembar jawab siswa, caranya…yeah cuma apa sih, namanya pilihan ganda, cuma dipas pasin sama kertas kunci yang udah dibolong.
ugh, sang guru nggak tau bagaimana siswa memperoleh jawabannya. baik yang memang berusaha keras maupun curang. prosesnya jelas berbeda, namun miris banget, semua terlihat sama saja. apa yang tercetak di kertas itulah hasilnya.
sang guru nggak pernah tau bahwa diantara siswanya ada yang tidak tidur cuma buat belajar, tapi beliau juga nggak tau ada yang cuma liat contekan dan bergantung pada keberuntungan. kalaupun tau, kadang beliau juga nggak bisa ngambil tindakan.
di atas kertas, nilai sembilan pencontek tetep terlihat lebih bagus daripada tujuh si rajin.
dunia kejam ya.
tapi kita bisa apa sih?

Juli 11, 2011

mario teguh bilang…

Ditulis dalam Uncategorized pada 9:10 am oleh karinadamayanti

“..Engkau yang malam ini terluka oleh pengabaian, yang harapanmu ditepis seperti perca usang, Kesinilah. Duduklah di sini bersamaku. Jika hatimu gamang di ambang tangis, ijinkanlah ia menangis tulus. Sesungguhnya, airmatamu adalah doa penghubung hatimu yang dibisukan oleh pilunya pengabaian, dengan perhatian Tuhan. Wajah yang pasrah kepada Tuhan adalah wajah yang terindah. Tuhan akan menyelamatkanmu. Aamiin..”

Juli 4, 2011

ugh

Ditulis dalam Uncategorized pada 11:38 am oleh karinadamayanti

masalahnya kalian nggak memikirkan perasaan orang yang udah belajar mempeng bertahun tahun, dikalahin sama yang cuma belajar ujuk ujuk itu….sakit. MySpace
tau kan gimana rasanya pas nilai matematika ku itu secara ajaib turun dari langit, muncul di daftar nilai, padahal aku belum ikut ujian.
gimana rasanya, ada anak yang bisa dapet nilai, padahal dia ngerjain soal aja nggak, mikir aja nggak, DAPET NILAI, nggak remed malah. sakit ya kan? sebel ya kan?
itu mending cuma matematika, cuma sekali. lha selama ini yang tak rasain tu nggak cuma satu e, banyak, berkali-kali. dan apa aku protes ke kalian? enggak. ya cuma tak pendem aja sakitnya sendiri, entah sampai kapan aku bisa nahan, dan suatu saat bakal tak tumpahin semua dengan mungkin kata kata yang maaf, nggak enak di hati. lha piye? nek tak rasa rasani cuma bikin nangis aja e.
kenapa?
man, nilai nyebelin yg mereka didapet secara ujuk ujuk, atau curang malah, itu udah masuk ke rapot. rapot buat masuk PTN. it changes everything hellooooooooooo?
dan memang siapa peduli dengan prosesnya kan? apapun itu yang sudah tercetak di atas kertas, ya itu hasilnya.
kejam? lah iya. tapi mau gimana lagi? kita bisa apa to? nangis berjam jam juga nggak nolong.

ya Allah….tolong…

Juni 18, 2011

sederhana saja

Ditulis dalam Uncategorized pada 4:28 am oleh karinadamayanti

gimana rasanya mencintai orang dengan cara seperti itu?

hm?

yeah, hanya melihat dari jauh, menyimpannya sendiri. padahal dia belum tentu tau kan?

memangnya kenapa? selama dia bahagia, aku juga bahagia. melihatnya senang, itu sudah lebih dari cukup buatku

Maret 1, 2011

golongan darahku B lho

Ditulis dalam Uncategorized pada 4:47 am oleh karinadamayanti

Karakter orang bergolongan darah B :
orang dengan golongan sarah B paling praktis diantara semua golongan yang ada.mereka spesialis dibidang yang mereka geluti.jika mengerjakan sesuatu,mereka akan selalu berusaha untuk fokus. mereka cenderung berpedoman pada tujuan dan mengejarnya sampai tuntas,walaupun kelihatannya pekerjaan tersebut tidak mungkin dilakukan.mereka kurang kooperatif, mereka lebih suka mengikuti peraturan atau gagasan mereka sendiri.
biasanya orang ini lebih memerhatikan pikiran daripada perasaan,sehingga mereka sering terlihat dingin dan serius.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7230394

Februari 19, 2011

After Bloody Sunday

Ditulis dalam Uncategorized pada 11:55 am oleh karinadamayanti

Padmanaba Donor Darah 2011 “Bukti Cinta untuk Sesama” dapat berjalan dengan lancar dan supersukses. Minggu, 13 Februari 2011 menjadi momen tidak terlupakan buat PJRC. Kerja keras selama hampir dua bulan lebih terbayar sudah. Perolehan 181 calon pendonor, dan 117 kantong darah merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Satu lagi konstribusi kami kepada masyarakat Yogyakarta, dan terlebih lagi untuk Padmanaba.
Sebelumnya kami meminta maaf kepada para pendonor, calon pendonor, maupun pra-calon pendonor atas ketidaknyamanan yang kami buat pada hari H. Pertama, mengenai kuota yang kami berikan. Kami tidak pernah bermaksud memberikan batasan kuota untuk calon pendonor. Dan batasan yang kami berikan kemarin, dikarenakan calon pendonor sudah membludak pada pukul 12 siang, sedangkan petugas PMI yang hadir hanya sedikit, dan jadwal menuntut kami untuk selesai pada pukul dua siang. Jadi kepada pra-calon pendonor yang sudah datang ke SMA 3 dan terpaksa kami tolak, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kedua, kami minta maaf atas kegiatan donor darah berlangsung melebihi jadwal yang telah ditentukan. Pada rundown acara, kami telah menentukan acara akan berlangsung mulai pukul 10 hingga pukul 2 siang SAJA. Tapi kami justru memperpanjang waktu hingga pukul setengah 5 sore, yang menyebabkan para calon pendonor menunggu terlalu lama. Hal ini terpaksa kami lakukan, karena menjelang penutupan ternyata calon pendonor yang masih mengantri sangat banyak jumlahnya. Tidak manusiawi kalau kami harus menyuruh calon pendonor yang telah mengisi formulir itu untuk pulang. Maka atas persetujuan PMI kami memperpanjang waktu pendonoran. Jadi bagi calon pendonor yang menunggu terlalu lama, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan tersebut.
Sedikit cerita dibalik kesuksesan Padmanaba Dondar. Bukan PJRC namanya kalau tidak mengalami kejadian darurat, kejadian yang urgen, yang tiba-tiba, unexpectable, dan butuh pertolongan segera. Perjuangan kami menuju tanggal 13 tidaklah mudah. Berbagai masalah mulai dari pembentukan panitia yang sedikit terlambat, kesulitan mencari koordinator divisi, hilangnya data pendonor, sampai rumitnya koordinasi dengan PMI, pernah kami alami. Membludaknya calon pendonor, itu juga di luar skenario. Kami hanya memasang target 175 calon pendonor, kartu nomor urut sudah kami buat HANYA sampai nomor 175, tapi kenyataan di lapangan kami harus membuat nomor urut baru karena tentu saja nomor urut yang kami sediakan telah ludes. Merepotkan memang, tapi menyenangkan.
Kesuksesan kami tidak lepas dari bantuan, partisipasi, motivasi, dan doa dari berbagai pihak. Kami, panitia Padmanaba Donor Darah 2011 “Bukti Cinta untuk Sesama” mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada, pertama, masyarakat Jogja yang telah berpartisipasi di kegiatan kami. Terima kasih atas partisipasi Anda semua, kami tidak mungkin memperoleh kesuksesan ini tanpa partisipasi Anda. Kedua, PMI cabang Kota Yogyakarta. Terima kasih atas kesediaan PMI melakukan prosedur donor darah dan sanggup menyelesaikannya dengan baik meski melebihi waktu yang telah ditentukan. Ketiga, teman-teman Padmanaba yang terus memberikan semangat kepada kami, teman-teman Padmanaba yang turut berpartisipasi dalam kegiatan kami, terima kasih banyak. Terakhir, terima kasih sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu ya Allah, kami bisa melaksanakan kegiatan ini dengan lancar dan mendapat sukses besar. Terima kasih telah memudahkan kami untuk melalui segala masalah yang ada. Terima kasih telah mendengar keluh kesah kami selama ini. Terima kasih telah mendengar doa kami selama ini. Terima kasih untuk semuanya Tuhan.

Bhakti vidya ksatria tama, tan lalana labet tunggal bangsa, jaya jaya padmanaba, hidup padmanaba

Desember 4, 2010

udah semesteran aja

Ditulis dalam Uncategorized tagged pada 12:28 pm oleh karinadamayanti

uuuuuu cepet banget ya tau tau sekarang udah semesteran. padahal postingan terakhir aku tulis pas aku mid. sekarang aku juga tengah bertempur dengan semesteran nih. ini malem minggu, jadi agak rileks deh. (lucu banget semesteran kepotong libur dua kali, hari minggu dan hari libur apa aku lupa)
uah, aku capek nih belajar terus. apalagi kemaren matematika, uhuhu udah dibela belain les sama belajar nyampe mata lemes juga sama aja nggak bisa ngerjain. tapi ternyata aku punya banyak temen. dan katanya ada yang nyampe nangis gr2 gak bisa ngerjain soal. hehe, jadi aku agak lega, karena awalnya aku mengira aku makhluk paling bodoh se-padmanaba krn nggak bisa ngerjain. duh ibuuuk, aku mau jadi dokter tapi kok nggak bisa matematika gini sih? >.<

masalah klasik ujian: nyontek
haha. aku nggak ngurus sekarang. percuma juga tak ingetin mereka nggak nggubris. tapi aku nggak nyontek lho.
percaya deh, dulu tu ya jaman SD dan SMP yang namanya nyontek itu benar benar hina. teman teman bakal mengucilkanmu dan kamu akan sendirian, hidupmu hampa *lebai
dalam pikiranku nyontek itu adalah masalah yang cuma ada di sinetron sinetron, di kartun jepang, sama seperti mencuri membunuh, masalah2 yang cuma tak lihat di tv, di sergap, di bang napi. nggak ada di sekitarku, karena nyatanya memang begitu….DULU.
sekarang? kalo kamu nggak nyontek kamu aneh. nyontek itu budaya, catat itu, BUDAYA. sama kayak kamu makan pake tangan kanan, silaturahmi pas lebaran, kebiasaan yang selalu dilakukan, mendarah daging dalam dirimu, dan akhirnya kamu wariskan pada generasi setelahmu.
tau kan maksudku?
tapi tenang saya nggak nyontek ya, aku masih punya…apa namanya..harga diri, nah itu!

aduh capek. besok lagi deh. daaaaaaaaaa~

Halaman berikutnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.